Video ini menjelaskan dasar dari Google Sheets dan merupakan video ketiga dalam serial Belajar Google Sheets dari Nol. Kita membahas rumus dasar dan formatting dalam Google Sheets.
Video ini menjelaskan dasar dari Google Sheet dan merupakan episode kedua dari serial Belajar Google Sheets dari Nol.
Video ini menjelaskan dasar-dasar dari Google Sheets atau Spreadsheets. Cocok untuk kalian yang ingin belajar dari nol. Video kali ini merupakan episode pertama dari serial Belajar Google Sheets dari Nol.
Sebagai pusat kendali finansial, Departemen Accounting di industri perhotelan memiliki ritme yang jauh lebih dinamis dibandingkan perusahaan pada umumnya. Hal ini terjadi karena hotel beroperasi 24 jam dengan volume transaksi harian yang masif, melibatkan berbagai sumber pendapatan yang bergerak cepat dari kamar, restoran, hingga banquet.
Untuk memastikan seluruh arus kas dan laporan keuangan tercatat akurat—serta terintegrasi dengan mulus dari Property Management System (PMS) dan Point of Sale (POS) ke back office—departemen ini dibagi ke dalam beberapa seksi spesifik.
Struktur Bagian Departemen Accounting Hotel
Berikut adalah pembagian divisi yang membentuk ekosistem keuangan di sebuah hotel:
- Financial Controller (FC): Pemimpin tertinggi di departemen akuntansi. FC bertanggung jawab atas analisis laporan keuangan bulanan, penyusunan anggaran (budgeting), dan memberikan arahan strategis kepada manajemen terkait efisiensi dan profitabilitas.
- Income Auditor: Penjaga gawang pendapatan hotel. Mereka bertugas memverifikasi laporan pendapatan harian (Daily Revenue Report), mencocokkan data Night Audit di sistem dengan bukti fisik untuk memastikan tidak ada kebocoran atau kesalahan input posting dari Front Office maupun outlet F&B.
- Accounts Receivable (AR): Bagian Piutang. Mereka mengurus proses penagihan (invoice) kepada pihak ketiga yang memiliki fasilitas kredit dengan hotel, seperti Corporate, Travel Agent, Instansi Pemerintah, dan Online Travel Agent (OTA).
- Accounts Payable (AP): Bagian Hutang. Bertanggung jawab memproses pembayaran hotel kepada pihak eksternal, seperti supplier bahan makanan, vendor penyedia amenities, laundry pihak ketiga, hingga tagihan utilitas.
- Cost Control: Posisi krusial untuk menjaga margin keuntungan. Mereka memantau biaya operasional sehari-hari, menghitung harga pokok penjualan (terutama F&B Cost dan Recipe Costing), melakukan stock opname, dan menganalisis potensi pemborosan barang.
- Purchasing & Receiving: Purchasing (Pembelian) bertugas mencari harga vendor terbaik dan menerbitkan Purchase Order (PO). Sementara Receiving (Penerimaan) bertugas sebagai filter pertama untuk mengecek kualitas, kuantitas, dan spesifikasi barang fisik yang datang dari supplier sebelum masuk ke sistem inventory.
- General Cashier: Mengelola sirkulasi uang tunai fisik. Tugasnya mencakup menyiapkan uang kembalian (float/house bank) untuk kasir operasional, mengumpulkan setoran tunai (remittance) dari seluruh outlet, dan menyetorkannya ke bank.
- Storekeeper: Mengelola sistem pergudangan hotel (General Store). Mereka mengatur alur keluar masuk barang operasional dan memantau perputaran stok agar tidak ada barang yang menumpuk atau kedaluwarsa.
- Paymaster (Payroll): Mengurus kompensasi karyawan, mulai dari perhitungan kehadiran, lembur, potongan pajak, hingga pembagian porsi Service Charge bulanan hotel.
Kolaborasi data yang disiplin antar bagian ini adalah kunci utama yang menjaga stabilitas roda operasional sebuah hotel setiap harinya.
Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21) adalah salah satu jenis pajak yang paling sering bersinggungan dengan masyarakat, khususnya bagi mereka yang telah bekerja dan memiliki penghasilan. Memahami PPh 21 sangat penting agar Anda dapat mengelola keuangan dengan lebih baik dan memahami kewajiban perpajakan Anda.
Berikut adalah uraian lengkap mengenai dasar-dasar PPh 21.
Apa Itu PPh 21?
PPh 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri. Singkatnya, ini adalah pajak yang dipotong langsung dari penghasilan yang Anda terima dari pemberi kerja.
Siapa Subjek dan Pemotong Pajak?
Tidak semua orang dipungut PPh 21, dan tidak semua pihak berhak memotongnya.
Subjek PPh 21 (Pihak yang dikenakan pajak):
- Pegawai (tetap maupun tidak tetap/lepas).
- Penerima uang pesangon, pensiun, atau tunjangan hari tua.
- Bukan pegawai yang menerima imbalan atas jasa (seperti dokter, pengacara, freelancer, atau seniman).
Pemotong PPh 21 (Pihak yang memungut dan menyetorkan pajak):
- Pemberi kerja (baik orang pribadi maupun badan/perusahaan).
- Bendahara atau pemegang kas pemerintah.
- Penyelenggara kegiatan (untuk hadiah atau fee acara).
Objek Pajak PPh 21
Objek pajak adalah bentuk penghasilan yang dikenakan potongan PPh 21. Beberapa di antaranya meliputi:
- Gaji bulanan, upah harian, atau upah borongan.
- Tunjangan, bonus, THR (Tunjangan Hari Raya), dan gratifikasi.
- Honorarium atau komisi atas jasa.
- Uang pensiun dan pesangon.
Konsep Dasar Perhitungan dan Tarif
Mulai tahun 2024, pemerintah Indonesia memperkenalkan sistem perhitungan yang lebih sederhana menggunakan Tarif Efektif Rata-rata (TER) yang dipadukan dengan tarif progresif Pasal 17 UU HPP.
Untuk menghitung pajak Anda, ada dua komponen penting:
- PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak): Batas penghasilan yang dibebaskan dari pajak. Jika penghasilan tahunan Anda di bawah batas PTKP (misalnya Rp54.000.000 untuk individu lajang), maka Anda tidak akan dikenakan PPh 21.
- Tarif TER: Digunakan untuk memotong pajak bulanan (Januari – November) berdasarkan rentang penghasilan bruto dan status PTKP (kategori A, B, atau C). Pada bulan Desember, perhitungan akan disesuaikan menggunakan tarif progresif tahunan (mulai dari 5% hingga 35%).
Dengan memahami PPh 21, Anda bisa memastikan bahwa bukti potong pajak yang diberikan perusahaan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
Industri perhotelan memiliki perputaran transaksi yang sangat dinamis dan kompleks. Tidak seperti bisnis ritel biasa, hotel memiliki berbagai pusat pendapatan (revenue center) yang beroperasi 24 jam, mulai dari penyewaan kamar, restoran (F&B), fasilitas banquet dan meeting room, hingga layanan laundry.
Untuk mengelola arus kas dari berbagai departemen tersebut dan memastikan data pelaporan akurat, diperlukan siklus akuntansi yang tersistem dengan baik. Berikut adalah tahapan lengkap dalam siklus akuntansi perhotelan:
1. Pengumpulan Bukti Transaksi dan Integrasi Sistem
Siklus dimulai dari pencatatan setiap transaksi yang terjadi di seluruh area operasional. Di sinilah keandalan infrastruktur IT sangat vital. Data dari Point of Sale (POS) di outlet F&B dan Property Management System (PMS) di Front Office harus mengalir secara akurat ke sistem perangkat lunak akuntansi back-office. Bukti fisik maupun digital seperti guest folio, struk pembayaran, dan faktur dari supplier dikumpulkan sebagai dasar pencatatan murni.
2. Pelaksanaan Night Audit (Audit Malam)
Tahapan ini adalah proses yang paling membedakan akuntansi hotel dengan industri lainnya. Setiap malam (biasanya menjelang pergantian hari operasional), tim Night Auditor akan:
- Memasukkan atau mem-posting tagihan kamar (room charge) harian ke dalam guest folio yang masih aktif.
- Mencocokkan transaksi dari semua departemen dengan penerimaan kas dan setelmen kartu kredit/debit.
- Menutup pembukuan hari tersebut (day close) untuk memastikan saldo harian seimbang (balance) sebelum hari operasional baru dimulai pada sistem.
3. Pencatatan ke Dalam Jurnal Khusus dan Buku Besar
Setelah hasil night audit divalidasi oleh departemen akuntansi di pagi harinya, data diringkas dan diposting ke dalam jurnal. Hotel umumnya menggunakan jurnal khusus untuk mengkategorikan transaksi bervolume tinggi, seperti Jurnal Penerimaan Kas, Jurnal Pengeluaran Kas, dan Jurnal Penjualan. Dari jurnal-jurnal ini, angka-angka tersebut ditarik ke dalam Buku Besar (General Ledger) untuk mengelompokkan saldo per akun.
4. Pembuatan Neraca Saldo (Trial Balance)
Pada akhir periode (umumnya pada saat penutupan akhir bulan atau month-end closing), total saldo dari setiap akun di Buku Besar ditarik untuk menyusun Neraca Saldo. Tujuannya adalah untuk memverifikasi secara matematis bahwa total debit dan kredit dari seluruh transaksi hotel sudah seimbang sebelum membuat laporan final.
5. Pencatatan Jurnal Penyesuaian (Adjusting Entries)
Operasional hotel sangat bergantung pada perputaran persediaan (inventory) dan pemeliharaan aset fisik. Oleh karena itu, penyesuaian wajib dilakukan di akhir bulan untuk mencatat:
- Penggunaan bahan baku makanan (food cost), minuman (beverage cost), dan guest amenities.
- Penyusutan (depresiasi) aset fisik hotel seperti bangunan, mesin, server, dan furnitur kamar.
- Pendapatan yang masih harus diterima atau beban yang masih harus dibayar (akrual), misalnya tagihan listrik bulanan yang belum jatuh tempo.
6. Penyusunan Laporan Keuangan berbasis USALI
Tahap akhir adalah menerbitkan laporan keuangan bulanan. Untuk memudahkan analisis kinerja manajerial, hotel standar internasional maupun nasional umumnya mengadopsi kerangka USALI (Uniform System of Accounts for the Lodging Industry).
Standar pelaporan ini secara rapi memisahkan pendapatan dan beban langsung ke masing-masing departemen operasional (misalnya, Laba/Rugi Departemen Kamar vs Laba/Rugi Departemen F&B). Dengan pemisahan ini, pihak manajemen bisa melihat dengan jelas departemen mana yang berjalan paling efisien dan menyumbang laba terbesar.
Catatan Penting: Kelancaran seluruh siklus ini sangat bergantung pada arsitektur jaringan database hotel. Jika terjadi downtime atau kegagalan sinkronisasi database antara PMS operasional dan sistem finansial back-office, hal ini dapat menyebabkan selisih pelaporan (variance) yang memakan waktu lama untuk ditelusuri.